Sering Bawa Bekal dalam Kotak Kemasan? Berbahaya Jika Anda Perlakukan Seperti ini!

Membawa bekal makanan dalam kemasan kemudian dipanaskan kembali di rumah sepertinya lebih menghemat pengeluaran.

Namun, bekal makanan dalam kemasan yang kemudian dipanaskan lagi itu mengandung risiko keamanan.

Menurut laporan BBC, ada sekitar 1 juta orang yang keracunan makanan di Inggris setiap tahun.

ILUSTRASI. (i.pinimg.com)

Hal itu sebagian besar disebabkan prosedur pemanasan makanan yang tidak benar menjadi pemicunya.

Tidak sedikit orang yang punya pengalaman seperti ini, dimana ketika hendak menikmati makanan lezat yang dipanaskan kembali, baru terasa di dalamnya masih dingin.

Sekadar diketahui, makanan itu harus dipanaskan sepenuhnya hingga 82 derajat celcius baru bisa membasmi semua bakteri berbahaya.

Jika tidak dipanaskan sepenuhnya, akibatnya yang panas hanya di bagian permukaan (bagian luar), sementara di dalamnya masih dingin, tentu saja tidak akan mampu membasmi setumpuk bakteri hidup di dalam makanan.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan?

Biasanya kita akan memanaskannya lagi, tapi ketahuilah cara ini ternyata keliru.

Michael Mosley, pembawa acara “Trust Me I’m a Doctor” dalam sebuah program di televisi Inggris menuturkan, saat makanan dingin, itu berarti memberikan kesempatan bagi perkembangbiakan bakteri berbahaya, sehingga makin sulit dibasmi sekalipun dimasukkan ke dalam oven atau microwave.

Bakterinya mudah dibasmi, tapi sulit menghilangan racunnya.

ILUSTRASI. (foodbox.in)

Terutama makanan biji-bijian yang dibawa pulang, karena dikhawatirkan dapat mengembangbiakan suatu jenis bakteri yang disebut Bacillus cereus (B. cereus).

Apabila bakteri ini menetap dalam makanan, dipastikan akan menghasilkan racun, dan racun-racun ini tahan panas, meskipun dipanaskan sampai pada suhu yang dapat membunuh semua bakteri, namun, tetap saja masih mengandung racun. Jika dimakan, dapat menyebabkan diare dan muntah.

Kentang yang menjadi dingin di bawah lingkungan suhu udara normal atau di luar pendingin ruangan, maka akan rentan menghasilkan BTX, Botulinum Toxin, yang sulit dilenyapkan walaupun dipanaskan kembali, demikian dilansir dari The Independent news.

Dalam proses “pemanasan berulang” pada makanan, mungkin dapat mengakibatkan kerusakan protein dalam makanan.

Juga rentan menghasilkan karsinogen, terutama makanan seperti sosis atau bacon dan sejenisnya, yang kerap mengandung nitrit, pengawet dan sebagainya.

Itu bisa meningkatkan konsentrasinya (kepekatan) karena pemanasan berulang itu.

Untuk bisa menikmati dengan aman makanan yang dibawa dari luar (makanan yang dibungkus dengan kertas/wadah/kemasan dan semacamnya) atau lauk pauk sisa, itu juga ada ilmu atau triknya.

Misalnya pemanasan makanan menggunakan microwave, aduklah makanan itu sampai seluruh bagiannya panas merata.

Biasanya makanan jenis daging akan menjadi kering dan keras setelah dipanaskan, karena itu, sebelum dipanaskan, Anda bisa melumurkan kaldu ayam secukupya di permukaannya.

Makanan yang dipanaskan berulang kali tidak hanya memengaruhi cita rasanya, tapi juga tidak bermanfaat bagi kesehatan.

ILUSTRASI. (assets.box8.co.in)

Bagi mereka yang suka menyantap makanan atau lauk pauk sisa dan sering menyantap makanan yang dipanaskan kembali, mudah memicu masalah atau gangguan pada pencernaan, bahkan rentan terserang kanker kolorektal.

Sebaiknya jangan biasakan menyisakan makanan atau lauk pauk untuk keesokannya kemudian dipanaskan dan dikonsumsi lagi.

Dihimbau sebaiknya konsumsilah makanan yang segar, dengan begitu baru bisa menghindari serangan penyakit yang tidak diharapkan. (jhn/yant/rp)

Epochtimes & erabaru

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *