Jangan Meremehkan Pekerjaan Apa Pun

Ia lahir dari sebuah keluarga biasa di Jerman. Ayahnya adalah seorang pembuat sepatu lokal yang cukup terkenal.
Sejak kecil sampai dewasa, dia memakai sepatu buatan ayahnya. Sepatu buatan ayahnya bukan saja awet dan nyaman di kaki, tapi juga unik, dan selalu menarik perhatian dan tatapan iri anak-anak.

Semasa kanak-kanak, ayahnya adalah sosok pahlawan dan idola di hatinya. Diam-diam, dia bersumpah kelak akan menjadi pembuat sepatu seperti ayahnya.

Namun, seiring dengan pertumbuhannya, sosok ayahnya yang hebat di matanya itu mulai pudar.

Apalagi saat memasuki sekolah menengah, dimana ketika dia mengetahui ayah teman sekolahnya itu kalau bukan berprofesi sebagai pejabat pemerintah, pengusaha kaya, pasti pengacara atau dokter, maka kebanggaan yang ada dalam pikirannya itu pun sirna seketika.

Dia merasa sangat rendah hati, tidak pernah mau bermain di tempat kerja ayahnya, dan tidak pernah mau melihat ayahnya ke sekolah mencarinya.

Setiap kali saat teman sekelas bertanya tentang pekerjaan ayahnya, dia selalu berbohong atau menggumam dan melarikan diri.

Suatu ketika, dia bertikai dengan seorang teman sekelasnya. Entah dari mana teman sekelasnya itu tahu kalau ayahnya adalah seorang pembuat sepatu.

ILUSTRASI. (flightclub.com)

Lalu dihadapan semua teman-teman, dia berteriak keras sambill menunjuk hidungnya mengatakan, “Apa sih hebatnya anak seorang tukang sepatu tak tahu diri itu! lebih baik jangan banyak tingkah di depanku”.

Sejak saat itu, harga dirinya terluka, dan ingin sekali rasanya dia membenturkan kepalanya ke tembok saat itu.

Sebenarnya itu hanyalah lelucon teman sekelasnya, tapi dia menganggapnya serius, dan menyalahkan semua dosa itu kepada ayahnya.

Malam itu, saat pulang ke rumah, dengan kesal dia berteriak marah pada ayahnya, “Mengapa Anda bukan pejabat pemerintah, bukan pengusaha kaya, pengacara atau seorang dokter atau pekerjaan lainnya, ada begitu banyak profesi di masyarakat, tapi mengapa Anda justeru memilih menjadi pembuat sepatu?”

Mendengar kejengkelannya, ayahnya tidak marah, tapi berusaha menghiburnya.

“Nak, memangnya kenapa kalau tulang sepatu, kita tidak mencuri, merampok, kita mencari nafkah dengan sepasang tangan kita, kenapa harus malu ? Apalagi, tidak peduli apakah presiden, atau warga sipil, selama dia hidup di dunia ini, dia pasti akan memakai sepatu. Tanpa kita pembuat sepatu, orang-orang yang menertawaimu akan berjalan tanpa alas kaki di jalanan. Asal tahu saja, jangan pernah meremehkan pekerjaan tukang sepatu ini, jika kamu bisa membuat sepatu yang bagus, dan semua orang suka memakai sepatu buatanmu, maka kamu akan menjadi sosok orang yang terhebat abad ini. Nak, kamu harus ingat, tidak peduli kapan pun, orang lain boleh-boleh saja memandang sebelah mata sama kamu, tapi kamu tidak boleh meremehkan dirimu sendiri,” kata ayahnya dengan bijak.

Setelah mendengar penjelasan ayahnya, matanya seketika bersinar, ya benar! Ada lebih dari 6 miliar manusia di dunia. Jika ada 100 juta orang saja yang memakai sepatu buatannya, maka itu akan menjadi aset yang luar biasa.

Sejak saat itu, dia tidak lagi rendah diri, mulai mengikuti ayahnya belajar teknik pembuatan sepatu, dan membuat inovasi yang berani secara seni tradisional, menciptakan lebih dari 700 jenis produk yang dipatenkan terkait olahraga, dan memproduksi.

ILUSTRASI. (imgix.net)

Sepasang sepatu olahraga, sepatu roda dan multi buckle shoe pertama di dunia.

Ketika ada yang menanyakan apa pekerjaan ayahnya, dia dengan tegas dan bangga mengatakan, “Ayah saya adalah seorang pembuat sepatu yang hebat.”

Bertahun-tahun kemudian, dia pun menjadi seorang tokoh besar dunia, produknya menjadi model yang dicari-cari para atlet olah raga profesional dan warga biasa.

Adolf “Adi” Dassler (scoopwhoop.com)

Dia adalah Adolf Adi Dassler, pendiri adidas dan pembuat pakaian olah raga adidas yang menyapu dunia.

Sejak awal hingga kini, Adidas selalu menjadi pemimpin industri, produknya diekspor ke lebih dari 150 negara di dunia, dengan omset miliaran dolar AS atau triliunan rupiah per tahun, dan pencipta keajaiban ini adalah anak seorang pembuat sepatu.

Makna cerita ini adalah jangan pernah meremehkan diri sendiri meski terlahir miskin.

Jangan meremehkan pekerjaan apa pun yang sekilas tampak tak berarti, selama anda praktikkan secara nyata, dan manfaatkan setiap kesempatan di sekeliling anda, Anda akan terkejut mendapati seberapa lapangnya hati dan impian anda itu, maka akan selebar itu juga jalan di bawah telapak kaki Anda. Semoga tercerahkan

 

Sumber : http://www.erabaru.net/

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *